Minggu, 21 September 2014

Saat Kamu Wisuda Aku Akan Hadir Diantara Keluargamu

Tunggu aku, lagu andra and the backbound berpadu getar kipas angin yang mengalun membunyikan alunan kesepian menjadi  getir tersendiri malam ini. Seperti bersaut memainkan perasaan yang dihinggapi kebekuan yang belum juga mencair atas pertemuan yang hanya bersarang mengangan tanpa suatu kepastian yang berarti.Tanpa komando angin malam menusuk masuk melalui celah ventilasi kamar asramaku. Iya, aku tinggal di asrama sekarang. Menjadi seorang mahasiswa baru di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya tapi bukan berarti aku pejuang LDR baru.
                “Dek, jangan lupa makan biasanya anak kos itu identik keluar jalan jalan, tapi mamas harap kamu tidak boros menghabiskan uangmu”. Sms ringan darinya yang selalu membuatku tersenyum dan merasa dia memperhatikanku dari sana.
                “Pasti mas, besok aku ada tes kesehatan”. Balasku.
Begitulah sekiranya siklus pacaran antara kami. Sms dan telfon bergantung pada kebaikan hati cuaca yang memudahkan sinyal tanpa harus pending. Hal aneh bagi mereka yang non LDR tapi istimewa bagi kami. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk melihat bintang yang sama, memulai dan mengakhiri konflik, membantu mengerjakan tugas, bahkan dia senantiasa menemaniku dan mendongengiku disaat aku tidak bisa tidur, menyanyikan sebuah lagu saat aku menangis, bercanda dan bertaruhan iya semua itu kami lakukan dengan bantuan teknologi.  Kami sudah 2 tahun 2 bulan menjalani pacaran seperti ini. Sejak SMA kami sudah berjauhan, dia di Lampung dan aku di Lamongan salah satu kabupaten di Jawa Timur.  Antara Sumatera dengan Jawa yang berpelukan melalui doa. Sekarang dia berada di Ponorogo dan aku di Surabaya. Betapa baiknya Allah yang sedang menguji kesabaran dan kepercayaan kami satu sama lain. Bagaimanapun, kami kembali harus menjalani rutinitas kami yang harus dan masih mengandalkan teknologi kembali.
Disaat libur semester pasangan LDR lainnya bisa puas bersama pasangannya berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, kami hanya bisa menggenggam tangan satu sama lain dalam hitungan jam. Rumahku di Lamongan dan rumahnya di Ponorogo memang kita satu Provinsi hanya saja jarak antar kedua Kabupaten ini 200 km. 2 tahun menjalani LDR namun hanya 2 kali kami bertemu. Pertemuan pertama di tanggal 22 Mei 2014 selepas pengumuman UNAS dia tiba-tiba datang seperti pangeran yang menjemput sang putri. Berdiri tepat didepan pintu rumah, sungguh itu pertama kali jantung ini kembali berdebar setelah 2 tahun tak bergetar sehebat itu. 13 Agustus 2014 adalah pertemuan kedua kami, kini giliranku menyapanya. Sungguh penuh perjuangan yang berujung pada pembayaran tukang ojek Rp 300.000 setelah tidak ada bis yang beroprasi karena telah larut malam dan hujan deras sedang mengguyur. Ya inilah perjuangan.
“Baru aku mengerti artinya bidadari, sejak dihari ini, jumpa kamu disini,
pasti inilah surga, ku di dalam nirwana, meskipun sementara.. saat kita berjumpa”
Reff lagu kurayu bidadari-Al Ghazali sarat akan pertemuan singkat yang mengena hingga membuat pelupuk basah oleh desir kenangan bergelayut memenuhi ruang memori. Pertemuan yang sangat berharga bagi kami saling menatap dan menunjukan getar kangen yang mengusik setiap malam. Pertemuan yang sering dihabiskan untuk berkicau saling menyalahkan dikaum non LDR. Tapi pertemuan dengan rasa berbeda antara sorai gedebuk cheerleaders dalam dada, dan lambaian tangan penuh kata tinggallah sebentar, jangan pergi, jaga hatimu untukku, cepatlah temui aku lagu dengan derai air mata sebagai pelengkapnya, iya itulah arti pertemuan dalam kamus besar LDR.
                Hapeku berdering yang spontan membuatku membaca nama dari sang penelepon.“Aku harus kembali ke Lampung untuk mengambil ijazahku dek sekalian nyari kerja disana. Ini permintaan Ibuku”. Katanya lesu diujung sana.
                “Kapan?lalu kapan kamu balik ke Ponorogo? Kita ga bisa ketemu lagi ya? Lalu pertemuan yang telah kita rencanakan bagaimana?”. Kataku dengan sebulir air mata panas menetes
                “Iya kemungkinan kita tidak bisa ketemu, kamu disana masih sibuk dengan kuliahmu sedangkan Ibuku disini memintaku untuk secepatnya mengambil ijazah. Jangan pikirkan aku, kamu fokus sama kuliahmu saja, kita ketemu saat sukses nanti. Jangan mengharapanku cepat pulang karna disini aku berjuang mencari kerja untuk masa depan kita. Tapi pasti aku janji saat kamu wisuda aku akan hadir diantara keluargamu. Kamu masih kuat LDR kan?”. Tanyanya
“Iya mas, kita ketemu saat sukses, semangat cari kerjanya, sampai ketemu lagi ya”. Aku hanya bisa menahan suara tangisku agar tidak ia dengar, aku ingin terlihat  kuat dimatanya.

Berpacu dengan tangis untuk mengikhlaskannya pergi. Memang ini bukan akhir perjuangan kami, sejatinya inilah perjuangan pejuang LDR yang sesungguhnya. Untukmu aku akan berusaha mempercepat wisudaku sayang, tunggu aku 3 - 4 tahun lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar