Sabtu, 04 Oktober 2014
Minggu, 21 September 2014
Saat Kamu Wisuda Aku Akan Hadir Diantara Keluargamu
Tunggu aku, lagu andra and the
backbound berpadu getar kipas angin yang mengalun membunyikan alunan kesepian
menjadi getir tersendiri malam ini. Seperti
bersaut memainkan perasaan yang dihinggapi kebekuan yang belum juga mencair
atas pertemuan yang hanya bersarang mengangan tanpa suatu kepastian yang
berarti.Tanpa komando angin malam menusuk masuk melalui celah ventilasi kamar
asramaku. Iya, aku tinggal di asrama sekarang. Menjadi seorang mahasiswa baru
di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya tapi bukan berarti aku
pejuang LDR baru.
“Dek,
jangan lupa makan biasanya anak kos itu identik keluar jalan jalan, tapi mamas
harap kamu tidak boros menghabiskan uangmu”. Sms ringan darinya yang selalu
membuatku tersenyum dan merasa dia memperhatikanku dari sana.
“Pasti
mas, besok aku ada tes kesehatan”. Balasku.
Begitulah sekiranya siklus pacaran
antara kami. Sms dan telfon bergantung pada kebaikan hati cuaca yang memudahkan
sinyal tanpa harus pending. Hal aneh bagi mereka yang non LDR tapi
istimewa bagi kami. Kami sering menghabiskan waktu bersama untuk melihat
bintang yang sama, memulai dan mengakhiri konflik, membantu mengerjakan tugas,
bahkan dia senantiasa menemaniku dan mendongengiku disaat aku tidak bisa tidur,
menyanyikan sebuah lagu saat aku menangis, bercanda dan bertaruhan iya semua
itu kami lakukan dengan bantuan teknologi.
Kami sudah 2 tahun 2 bulan menjalani pacaran seperti ini. Sejak SMA kami
sudah berjauhan, dia di Lampung dan aku di Lamongan salah satu kabupaten di
Jawa Timur. Antara Sumatera dengan Jawa
yang berpelukan melalui doa. Sekarang dia berada di Ponorogo dan aku di
Surabaya. Betapa baiknya Allah yang sedang menguji kesabaran dan kepercayaan
kami satu sama lain. Bagaimanapun, kami kembali harus menjalani rutinitas kami
yang harus dan masih mengandalkan teknologi kembali.
Disaat libur semester pasangan LDR
lainnya bisa puas bersama pasangannya berhari-hari atau bahkan
berminggu-minggu, kami hanya bisa menggenggam tangan satu sama lain dalam
hitungan jam. Rumahku di Lamongan dan rumahnya di Ponorogo memang kita satu
Provinsi hanya saja jarak antar kedua Kabupaten ini 200 km. 2 tahun menjalani
LDR namun hanya 2 kali kami bertemu. Pertemuan pertama di tanggal 22 Mei 2014
selepas pengumuman UNAS dia tiba-tiba datang seperti pangeran yang menjemput
sang putri. Berdiri tepat didepan pintu rumah, sungguh itu pertama kali jantung
ini kembali berdebar setelah 2 tahun tak bergetar sehebat itu. 13 Agustus 2014
adalah pertemuan kedua kami, kini giliranku menyapanya. Sungguh penuh
perjuangan yang berujung pada pembayaran tukang ojek Rp 300.000 setelah tidak
ada bis yang beroprasi karena telah larut malam dan hujan deras sedang
mengguyur. Ya inilah perjuangan.
“Baru aku mengerti artinya bidadari,
sejak dihari ini, jumpa kamu disini,
pasti inilah surga, ku di dalam
nirwana, meskipun sementara.. saat kita berjumpa”
Reff lagu kurayu bidadari-Al Ghazali
sarat akan pertemuan singkat yang mengena hingga membuat pelupuk basah oleh
desir kenangan bergelayut memenuhi ruang memori. Pertemuan yang sangat berharga
bagi kami saling menatap dan menunjukan getar kangen yang mengusik setiap
malam. Pertemuan yang sering dihabiskan untuk berkicau saling menyalahkan
dikaum non LDR. Tapi pertemuan dengan rasa berbeda antara sorai gedebuk cheerleaders
dalam dada, dan lambaian tangan penuh kata tinggallah sebentar, jangan
pergi, jaga hatimu untukku, cepatlah temui aku lagu dengan derai air mata
sebagai pelengkapnya, iya itulah arti pertemuan dalam kamus besar LDR.
Hapeku
berdering yang spontan membuatku membaca nama dari sang penelepon.“Aku harus
kembali ke Lampung untuk mengambil ijazahku dek sekalian nyari kerja disana.
Ini permintaan Ibuku”. Katanya lesu diujung sana.
“Kapan?lalu
kapan kamu balik ke Ponorogo? Kita ga bisa ketemu lagi ya? Lalu pertemuan yang
telah kita rencanakan bagaimana?”. Kataku dengan sebulir air mata panas menetes
“Iya
kemungkinan kita tidak bisa ketemu, kamu disana masih sibuk dengan kuliahmu
sedangkan Ibuku disini memintaku untuk secepatnya mengambil ijazah. Jangan
pikirkan aku, kamu fokus sama kuliahmu saja, kita ketemu saat sukses nanti.
Jangan mengharapanku cepat pulang karna disini aku berjuang mencari kerja untuk
masa depan kita. Tapi pasti aku janji saat kamu wisuda aku akan hadir diantara
keluargamu. Kamu masih kuat LDR kan?”. Tanyanya
“Iya mas, kita ketemu saat sukses,
semangat cari kerjanya, sampai ketemu lagi ya”. Aku hanya bisa menahan suara
tangisku agar tidak ia dengar, aku ingin terlihat kuat dimatanya.
Berpacu dengan tangis untuk
mengikhlaskannya pergi. Memang ini bukan akhir perjuangan kami, sejatinya
inilah perjuangan pejuang LDR yang sesungguhnya. Untukmu aku akan berusaha
mempercepat wisudaku sayang, tunggu aku 3 - 4 tahun lagi.
Langganan:
Komentar (Atom)